Ponorogo – Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema Penguatan Organ Penjaminan Mutu pada Senin, 20 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Gedung PSB lantai 3 Kampus 2 dan diikuti oleh unsur penjaminan mutu dari berbagai unit, mulai dari Dekan, Wakil Dekan 1, Gugus Kendali Mutu (Fakultas), Unit Penjaminan Mutu Proghram Studi (UPMPS) dan tim dari LPM.
FGD ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman, koordinasi, serta sinergi antarorgan penjaminan mutu. Selain itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis dalam meningkatkan kualitas perguruan tinggi secara berkelanjutan.
Hadirkan Narasumber dari UIN Malang
Untuk memperkaya wawasan peserta, LPM menghadirkan narasumber dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yakni Rosihan Aslihuddin, S.Sos., M.A.B. Kehadiran narasumber eksternal ini diharapkan mampu memberikan perspektif baru dalam pengelolaan sistem penjaminan mutu.
Ketua LPM UIN Ponorogo, Dr. Hestu Wilujeng, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta. Ia menilai antusiasme peserta menjadi modal penting dalam mengawal peningkatan mutu universitas.
“Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi serta meningkatkan pemahaman implementasi sistem penjaminan mutu internal,” ujarnya.
Penguatan Strategi Mutu Jadi Fokus Utama
Wakil Rektor I, Dr. Edi Irawan, M.Pd., menegaskan bahwa langkah menghadirkan narasumber merupakan keputusan yang tepat. Menurutnya, hal ini penting untuk memperkaya wawasan kelembagaan dalam meningkatkan mutu.
Sementara itu, dalam sesi diskusi, Korpus PSM Aristiawan, M.Pd., menyoroti pentingnya kejelasan pembagian tugas antara LPM, GKM, dan UPMP. Ia menekankan bahwa kejelasan peran dapat mencegah tumpang tindih pekerjaan di lapangan.
Bahas SPMI, AMI, hingga Siklus PPEPP
Dalam pemaparannya, narasumber yang akrab disapa Cak Ro menjelaskan berbagai aspek penting penjaminan mutu. Ia menguraikan peran strategis GKM dan UPMP dalam pengembangan mutu perguruan tinggi.
Selain itu, ia juga membahas kriteria dan instrumen akreditasi, implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), termasuk Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) dan Audit Mutu Internal (AMI). Pembahasan juga mencakup struktur organisasi gugus mutu dan sistem pengendalian mutu di tingkat universitas, fakultas, hingga program studi.
Tidak hanya itu, Cak Ro turut menekankan pentingnya penerapan siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan). Ia juga mengulas penyusunan matriks pembagian tugas agar kerja antarorgan menjadi lebih terstruktur dan efektif.
Dorong Penerapan SPMI Berbasis Risiko
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi bincang santai antara LPM dan narasumber. Dalam sesi ini, peserta mendalami konsep sistem penjaminan mutu internal berbasis risiko.
Diskusi tersebut juga menjadi ruang berbagi praktik baik yang dapat diadopsi di lingkungan LPM UIN Ponorogo. Dengan demikian, implementasi SPMI diharapkan semakin adaptif dan responsif terhadap tantangan.
Perkuat Sinergi untuk Mutu Berkelanjutan
Melalui FGD ini, LPM menargetkan terciptanya sinergi yang lebih kuat antarorgan penjaminan mutu. Selain itu, kejelasan peran dan efektivitas kerja diharapkan semakin meningkat.
Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan mampu mendukung peningkatan mutu perguruan tinggi secara berkelanjutan serta memperkuat daya saing institusi di tingkat nasional maupun global. (rh)
